Tim Kreatif
Tim Kreatif
22 Views

Dahulu, masyarakat pengrajin yang hidup di Kepulauan Aru membuat tas dari kulit kayu yang bernama goba-goba. Tas ini sekilas menyerupai tas Noken dari Papua yang sering kita temui hari ini. Namun, karena tergerus zaman, goba-goba sempat hilang selama beberapa dekade. Hingga muncul lah sebuah komunitas yang berisikan anak-anak muda dengan kreatifitas tinggi dan membangkitkan kembali tradisi ini. Komunitas yang diketuai oleh Abraham Apanath ini bernama Jepa-jepa.

 

Komunitas ini menghasilkan berbagai macam produk selain tas. Ada pajangan dinding, maupun aksesoris hiasan lainnya. Selain bahan dasarnya yang berupa kulit kayu, akar kayu juga digunakan untuk menjahit tasnya. Pembuatan produk-produknya disesuaikan dengan permintaan pemesan. Lama proses pembuatannya bergantung pada tingkat kesulitan dan ukuran. Untuk pembuatannya, kulit kayu yang sudah dilepaskan dijemur terlebih dahulu selama beberapa hari. Setelah kering, kulit kayu tersebut kemudian diangkat dan ditumbuk agar mendapatkan tekstur yang lebih lembut.

Kemudian, dianyam menggunakan akar kayu tadi sesuai kebutuhan sebelum kemudian sampai pada proses terakhir yaitu di plitur agar lebih tahan lama dan mengkilap. Selain kulit kayu, pelepah sagu dan pelepah pinang juga dapat digunakan. Untuk harganya, tas kulit kayu yang dijual disini dihargai Rp. 100.000. Sedangkan untuk hiasan dinding harganya tergantung ukuran dan kerumitan ukirannya. Untuk menuju ke lokasi rumah produksinya cukup mudah karena terletak dekat pusat kota Dobo. Dengan bermodalkan keinginan membangkitkan sejarah yang dahulu serta semangat berkarya, komunitas Jepa-jepa telah membuktikan bahwa berkarya dapat dilakukan dalam keadaan yang penuh kesederhanaan. Selama api yang menyala itu tetap dijaga dan dirawat dengan baik, mengapa harus khawatir?

 

Penulis : MAK

Foto : PP

Artikel

Comments

No comments