Lawa Pipi : Menjaga Tradisi Idul Adha di Uli Halawang

Tim Kreatif
Tim Kreatif
53 Views

Uli Halawang, atau yang lebih dikenal dengan nama Negeri Hila, terletak di Jazirah Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Uli Halawang adalah nama julukan dari Negeri yang terkenal dengan Benteng Amsterdamnya. Uli artinya Negeri dan Halawang artinya Emas, dengan demikian Uli Halawang dapat diterjemahkan atau diartikan sebagai Negeri Emas. Julukan ini mungkin disematkan pada Negeri Hila karena pada zaman kolonialisme Hila adalah salah satu penghasil cengkeh dan pala, dua komoditas berharga setara emas di pasaran Eropa. Keberadaan Benteng Amsterdam dan Gereja Tua Imanuel adalah bukti pernah berkuasanya bangsa Eropa, dalam hal ini Hindia-Belanda di Hila dan Maluku secara umum. Jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, Hila terlebih dahulu telah mendapat pengaruh Islam.

Salah satu tradisi Islam yang masih terjaga hingga sekarang adalah Lawa Pipi, yakni tradisi arak-arakan hewan kurban untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Lawa Pipi dalam bahasa Hila terdiri dari, kata ‘Lawa’ artinya Lari, dan ‘Pipi’ artinya Kambing. Tradisi Lawa Pipi diadakan sehari setelah sholat  Idul Adha. Kambing yang terpilih disebut ‘Tema’, biasanya adalah kambing yang berumur di atas 2 tahun, tidak cacat, dan beberapa syarat lainnya harus terpenuhi sebelum seekor kambing ditetapkan sebagai ‘Tema’, hewan kurban utama. Semua hewan kurban harus dibawa ke halaman Rumah Raja Oolong. Sebelum tradisi dimulai terlebih dahulu para tetua adat akan berkumpul di Rumah Raja Oolong dan bersama-sama membaca doa. ‘Tema’ harus ditempatkan persis di pintu masuk Rumah Raja. Orang-orang berdatangan mengusapkan uang atau dedaunan rempah-rempah ke ‘Tema’, mereka percaya ini dilakukan untuk ‘buang sial’. Setelah pembacaan doa selesai, rombongan warga bersama-sama akan mengarak hewan kurban mengelilingi kampung. Hewan kurban haruslah dipikul di atas bahu. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, seluruh warga bersholawat sambil mengelilingi kampung. Di barisan paling depan adalah Mama Biang, sebutan bagi ‘dukun beranak’ di desa. Setelah satu kali mengelilingi kampung, selanjutnya mereka akan berlari mengelilingi Masjid Adat Hasan Sulaiman sebanyak 7 (tujuh) kali yang menyerupai Thawaf. Usai berlari mengarak hewan kurban mengelilingi masjid, selanjutnya ‘Tema’ akan dipotong di tempat pemotongan khusus di area masjid. Orang-orang akan melemparkan uang, baik uang kertas maupun koin ke area pemotongan ‘Tema’, sekali lagi mereka percaya, tindakan ini adalah tindakan buang sial.

Melalui bincang-bincang dengan Haji Abubakar Tatisina selaku Talauke, sebutan untuk pemuka agama sekaligus penguasa Masjid Adat Hasan Sulaiman, beliau mengungkapkan bahwa Idul Adha tahun ini ada 9 (Sembilan) ekor sapi dan 23 (dua puluh tiga) ekor kambing yang dikorbankan. Masing-masing hewan kurban akan dibagikan merata di tiap sektor untuk disembelih. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Talauke adalah badan penguasa masjid adat sekaligus tim pengelola masjid. Tim ini terdiri dari 4 (empat) orang pemuka agama dengan Haji Tatisina sebagai pimpinan.

Tradisi Lawa Pipi Tahun Hijriah 1442 tahun ini dilaksanakan dalam guyuran hujan. Meski demikian, tidak mengurangi antusiasme warga Negeri Hila. Dalam situasi pandemi virus covid-19, prosesi adat ini tertutup hanya bagi masyarakat negeri. Jika situasi sudah lebih membaik, diharapkan tradisi ini dapat kembali terbuka untuk disaksikan bagi orang dari luar Hila.

Penulis : EDW

Foto : EDW & MDL

Artikel Info Terkini Informasi

Comments

No comments