Seminar Nasional : Narasi Tunggal Istana Mini Banda Sebagai Istana Kepresidenan

Tim Kreatif
Tim Kreatif
13 Views

Jumat, 13 Mei 2022. Bertempat di Ruang Rapat Utama Banda Neira 2, SwissBel Hotel Ambon, Dinas Pariwisata Provinsi Maluku menggelar Seminar Nasional yang bertemakan, “Urgensi Revitalisasi Istana Mini Banda, Dalam Rangka Mendorong Pengembangan Ekonomi dan Industri Pariwisata Maluku.”

Acara dibuka oleh Sekda Provinsi Maluku yang mewakili Gubernur Maluku. Dalam sambutannya, Gubernur Maluku mengharapkan agar seminar ini dapat menghasilkan kajian akademis yang menyeluruh tentang Istana Mini.

Seminar ini menghadirkan Keynote Speaker, Bpk. Odo Manuhuttu, Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia. Para pembicara diantaranya Bpk. Sartin Hia, Asisten Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kemenkomarves, Prof. Dr. Meutia Hatta,  Prof. Erwiza Erman dan Dr. Farid Muhammad, STIKIP Hatta-Sjahrir Banda.

Sesi pertama dipandu oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Bpk. Muddin Wael. Bpk. Odo Manuhuttu mengingatkan, agar jika ingin daerah maju, dua hal harus dikurangi yakni Pesta dan Malas. Gagasan Istana Mini sebagai Istana Kepresidenan merupakan suatu momentum untuk membangun industri pariwisata. Tentunya dibutuhkan sinergi antar semua pemangku jabatan. Komitmen pemerintah pusat dirasa perlu untuk disinambungkan dengan pemerintah daerah, baik dari sisi kejelasan program, anggaran yang jelas, pemberdayaan SDM yang baik, termasuk perbaikan asesibilitas dan amenitas. Terkait Banda Naira, Pemda perlu belajar dari pengembangan Kawasan Danau Toba di Sumut dan Kawasan Ubud Bali terkait masterplan yang jelas.

Ibu Meutia Hatta menyatakan Istana Mini Banda sangat layak untuk dijadikan Istana Kepresidenan di wilayah Indonesia Timur. Istana ini satu-satunya yang ada di wilayah Timur sedangkan istana-istana lainnya ada di Pulau Jawa, dan satu di Bali. Istana Mini Banda merupakan simbol perlawanan penduduk pribumi terhadap kolonialisme. Dari sudut pandang antropologi, lingkungan sosial di sekitar Istana Mini seharusnya saling mendukung menjadi satu kesatuan cerita. Cerita-cerita sejarah tentang kehidupan jaman kolonial sekiranya dapat menjadi narasi menarik.

Dr. Farid Muhammad memaparkan tentang Kesiapan Ketahanan Sosial dan Budaya Masyarakat Banda . Dalam paparan sejarahnya, Dr. Farid mengungkapkan tentang beberapa fakta sejarah, salah satunya status Istana Mini Banda yang berganti-ganti, mulai dari tempat tinggal Gubernur Jenderal VOC, selanjutnya rumah bagi Residen di jaman Pemerintah Kolonial hingga sempat menjadi rumah camat Banda selama beberapa waktu. Fakta sosiologis, awal abad ke-20 Naira menjadi kota hunian para tokoh bangsa, tokoh adat, dan pembuangan para pendiri bangsa. Mengutip kata-kata Dr. Farid, cerita dibalik Banda terlalu ‘kaya’ untuk dibuat ‘miskin’ bagi berbagai kalangan. Teladan Des Alwi, tokoh terkenal asal Banda sejatinya bisa menjadi penyemangat bagi generasi sekarang dalam pengembangan Banda Neira. Lebih lanjut, Dr. Farid sempat menyatakan beberapa kata kunci terkait ini, yakni : Pelestarian, Sinergi dan  Adapatasi, sehingga betul-betul strategi wisata yang akan dikembangkan dapat melokal dan tidak menghilangkan identitas Banda.

Prof. M.J. Huliselan menyampaikan materi tentang Sejarah dan Kearifan Budaya Banda. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang Banda sudah terkenal sebagai pelaut-pelaut ulung karena terkait perdagangan rempah-rempah. Ketika periwisata genosida terjadi oleh pemerintah VOC, lebih dari 60% penduduk di Naira dibunuh, sisanya ada yang diasingkan ke Batavia, kelompok lainnya melarikan diri ke Banda Elat yang ada di Kepulauan Kei. Prof. Huliselan lebih banyak membahas tentang nilai historis pala dan cengkeh dan peranannya sebagai salah satu komoditas dan ciri khas Banda. Komunitas masyarakat Banda yang beragam (keturunan Belanda, Portugis, Tionghoa dan pribumi) kini menjadikan Banda sebagai sebuah simbol kearifan budaya.

Bpk. Sartin Hia menghimbau sekali lagi agar pemerintah daerah harus bekerja keras. Respon positif dan angin segar dari Pemerintah Pusat seyogyanya disambut baik oleh Pemerintah Daerah. Lebih lanjut, Bpk. Sartin menjelaskan maksud dari narasi tunggal ini, yakni untuk memfokuskan Banda sebagai daerah destinasi dengan Istana Mini Banda sebagai fokus utama. Beliau menyarankan agar untuk Banda, mungkin yang bisa diprioritaskan adalah wisata sejarah. Kemenkomarves selalu mengajak tujuh kementerian yang dibawahinya untuk membangun bersama.  Integrated Tourism Masterplan sangat mendesak untuk dilakukan.

Melalui zoom, Prof. Burhan Bungin PhD selaku Ketua IKMB (Ikatan Keluarga Masyarakat Banda) mengusulkan untuk harus ada UPT yang ditempatkan di Banda. Selain itu, mungkin perlu dipertimbangkan pengembangan Desa Wisata sangat memungkinkan utk menjadi daya tarik baru, misalnya Desa Lonthoir di Pulau Banda Besar.

Prof. Erwiza Erman yang bergabung via zoom menyampaikan sebentar korelasi sejarah banda dan sejarah dunia. Sebagai penutup, Ibu Meutia menekankan harus ada pemisahan jelas antara hal-hal yg bersifat heritage (warisan), tapi juga ada sentuhan-sentuhan modern. Perlu ada kesiapan manusia, baik sebagai wisatawan maupun sebgai pengelola (SDM). Pak Sartin Hia juga menegaskan komitmen dan poin pentin dari Kemenkomarves, yakni perhatian lebih kepada quality tourism (pariwisata yang berkualitas) dibanding mass tourism, harus ada kekhasan Banda yang ditonjolkan. Membangun pariwisata terkait dengan membangun generasi, ia bersifat berkelanjutan.

Terakhir, Kepala Dinas Pariwisata mengingatkan agar semua pihak dapat saling bekerja sama dan berkomitmen penuh untuk menyukseskan Istana Mini Banda sebagai Istana Kepresidenan di wilayah Indonesia Timur.

Penulis : EDW

Foto : Tim Kreatif

Berita Info Terkini Informasi

Comments

    No comments